Kesepian

Apa definisi atau pengertian kesepian (loneliness)?, dan apa pula definisi atau pengertian kesendirian (aloneness)?.

Kesepian tidak sama dengan kesendirian. Kesepian (loneliness), merupakan pengalaman subjektif, tergantung interpretasi orang tersebut terhadap berbagai situasi. Sedangkan kesendirian (aloneness), merupakan kondisi objektif dan dapat diamati. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Rubenstein dan Shaver (dalam Widyarini, 2004), terdapat empat faktor umum perasaan yang muncul ketika seseorang berada dalam kesepian, diantaranya adalah putus asa, panik dan lemah, depresi, bosan, tidak sabar, serta mengutuk diri sendiri. Menurut Weiss (dalam Widyarini, 2004), terdapat dua tipe kesepian, kesepian secara sosial dan kesepian secara emosional. Emotional Loneliness adalah kesepian yang disebabkan kurang dekat-intim-lekat dalam hubungan dengan seseorang

Misalnya, kesepian yang dialami oleh mereka yang menduda atau janda, atau bercerai dengan pasangannya. Social Loneliness adalah hasil dari ketiadaan teman dan family atau jaringan social tempat berbagi minat dan aktivitas. Shaver dkk (dalam Widyarini, 2004) menegaskan perlunya membedakan kesepian dalam dua tipe yang lain, yaitu trait dan state. Trait Loneliness merupakan pola perasaan kesepian yang stabil, yang hanya sedikit berubah tergantung situasi. Pada umumnya orang yang memiliki harga diri (sefiesteem) yang rendah lebih sering mengalami trail loneliness. State Loneliness merupakan kesepian yang lebih temporer yang seringkali disebabkan oleh perubahan yang dramatis dalam kehidupan. Misalnya, seseorang yang baru saja pindah lokasi tempat tinggal, menjadi murid baru, dan sebagainya. Kesepian ini akan hilang bila telah ditemukan jaringan sosial yang baru. Berbagai reaksi muncul dalam menghadapi kesepian, dapat berupa reaksi pasif dan reaksi aktif Reaksi pasif dapat berupa menangis, tidur, makan, minum, menggunakan obat penenang, terus-menerus menonton TV.

Sedangkan reaksi aktif dapat berupa melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas seperti menyalurkan hobby, belajar, berolah raga, pergi ke bioskop, shopping sambil bersenang-senang, mengusahakan kontak sosial, menelepon, atau mengunjungi orang lain. Menurut Derlega dan Margulis (1993), kesepian bukan hanya menyangkut tidak adanya orang lain yang tepat yang dapat membantu seseorang untuk memenuhi kebutuhan tertentu dalam interaksi sosial, didukung dengan keyakinan bahwa tidak adanya orang tersebut akan berlangsung lama. Jadi bilamana merasa tidak ada orang yang tepat baginya untuk mencurahkan perasaamiya dan hal ini bisa berlangsung lama, maka orang tersebut cenderung akan merasa kesepian, walaupun di sekitarnya banyak orang. Pria dan wanita yang berusia enam puluh tahun ke atas atau yang biasanya disebut dengan lansia, adalah orang-orang beresiko untuk merasakan kesepian (Hurlock, 1997). Berbagai alasan yang dikemukakan oleh mereka tentang kesepian yang mereka alami adalah karena baru saja ditinggal mati oleh suami atau istrinya atau bahkan sudah bertahun-tahun lamanya, anak-anak mereka yang sudah menikah dan hidup terpisah dengan mereka untuk membangun kehidupan yang baru, lansia yang memang tidak memiliki keturunan dan sanak saudara yang dekat dengan tempat tinggal lansia itu sendiri, dan lain-lain.

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2186151-pengertian-kesepian-loneliness-dan-kesendirian/#ixzz1yD75VUGS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s